Penyebab berat badan “STUCK”

stuck copy
“Argh! Berat badan saya stuck!”

Pernahkah Anda mendengar kalimat tersebut dilontarkan oleh orang yang sedang berdiet? Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan “stuck” tersebut dan mengapa banyak yang mengalaminya.

Sebelum membahas hal tersebut, mari kita simak “reality show” dengan topik permasalahan yang juga sering dialami oleh kebanyakan orang yang berdiet.

REALITY SHOW

Sebut saja Ani, seorang wanita karir muda yang diundang untuk menghadiri reuni bersama teman kuliahnya sekitar 2 bulan lagi. Akibat pola makan yang buruk dan tidak pernah berolahraga selama bekerja, Ani sekarang memiliki bentuk badan yang tergolong gemuk. Hampir seluruh gaun pesta lamanya tidak dapat dikenakan lagi karena sudah terlalu sempit.

Teringat bahwa ia dulunya dikenal sebagai perempuan yang memiliki bentuk tubuh yang sangat bagus, Ani memutuskan untuk menurunkan berat badannya sebanyak 7 kg sebelum acara reuni diadakan. Ia kemudian mendaftarkan diri ke tempat fitness yang cukup terkenal dan menyewa jasa pelatih pribadi untuk membantunya dalam menyusun pola makan dan program olahraga.

Sungguh beruntung Ani setelah mengetahui pelatih pribadinya ternyata memiliki pengetahuan dalam menghitung kebutuhan kalori dan tidak sekedar bisa menyusun pola makan saja. Setelah diberitahu bahwa Ani harus makan sekian jumlah kalori dalam sehari, pelatih pribadi tersebut juga mengatakan bahwa Ani pasti turun sebesar 6 kg dalam 2 bulan karena defisit kalori (kalori masuk < kalori keluar atau dipakai) setiap harinya adalah 800 kalori baik dari berolahraga dan menjaga asupan makan.

Perhitungan:
800 x 60 hari = 48.000 ribu atau setara 6.67 kg
(1 kg lemak +/- 7200 kcals)

Ani pun bersemangat mendengar penjelasan tersebut dan menjalani seluruh saran dari pelatih pribadinya. Pelatihnya menyarankan Ani untuk berlatih 4x dalam seminggu agar turunnya sesuai rencana. Ia pun dianjurkan untuk menghindari makanan yang digoreng, snack, kuning telur, nasi putih, buah tertentu atau apapun makanan yang dianggap tabu dan kemudian menggantikannya dengan dada ayam rebus, ikan kukus, tumis brokoli, nasi merah, ubi, oatmeal yang rata-rata tanpa memakai bumbu apapun dalam memasak makanannya. Benar-benar persis seperti apa yang dimakan oleh pelatih pribadinya setiap hari. (saya pun tidak akan mampu menjalaninya hahaha)

Beberapa hari pertama Ani merasa tersiksa dan hampir menyerah menjalani “kehidupan baru” tersebut, tetapi karena daya juang yang besar ia pun tetap menjalaninya.

Setelah lewat 1 bulan betapa senangnya hati Ani karena berat badan dia sudah turun sebanyak 4 kg yang berarti tinggal sisa 3 kg dari target awal. Saking senangnya Ani pun meminta kepada pelatih pribadinya agar menaikkan porsi olahraga menjadi 5x dalam seminggu dan pelatihnya pun menyetujuinya dengan menjelaskan defisit kalorinya sekitar 1000 kcals per hari sehingga ekspektasi turun berat badan akan lebih cepat lagi.

Seminggu kemudian Ani menimbang kembali tetapi alangkah kagetnya ia karena belum banyak perubahan yang terjadi. Pelatihnya pun menambah durasi olahraga sedikit lebih lama dengan memberikan penjelasan bahwa tubuhnya sudah mulai adaptasi yang dijawab oleh muka pucat Ani dengan anggukan pelan pertanda iya.

weight-loss

Karena penasaran, setiap pagi Ani menimbang berat badannya tetapi bukannya senang malah tambah frustasi karena angka tidak kunjung berubah alias “STUCK”. Ia mulai mempertanyakan apakah ada yang salah dengan metodenya, pola makannya, program olahraganya, atau apakah harus menambahkan supplement seperti fat burner untuk mencapai berat badan yang diinginkannya.

good bye reunion

good bye reunion…

Waktu telah lewat dua minggu dan waktu reuni hanya tersisa seminggu tetapi berat badan Ani malah naik 1 kg. Ani pun mulai frustasi dan dia mengalami depresi berat hingga akhirnya memutuskan untuk melampiaskan kekesalannya memakan makanan yang telah ia idamkan dalam beberapa minggu ini yaitu seloyang besar pizza keju kesukaannya. Keesokan harinya saat ia bangun pagi dan menimbang berat badannya malah turun 2 kg. Karena hanya tersisa 1 kg dari target awal, ia pun tidak terlalu ketat lagi menjalani pola makan anjuran pelatihnya untuk “makan bersih” dan cenderung jajan makanan apa yang diinginkannya dalam beberapa hari ke depan.

Hari reuni telah tiba dan pada pagi harinya Ani menimbang berat badannya ternyata naik drastis dan hanya turun sebanyak 2 kg dari awal dia memulai diet sekitar 2 bulan lalu. Ia pun memutuskan untuk batal ikut reuni tersebut karena tidak “pede”.

THE END…

Nah itulah tadi “reality show” yang saya yakin banyak yang mengalaminya dan mungkin kejadiannya hampir serupa dengan pengalaman Anda yang sedang membaca artikel ini hahaha…

Maaf apabila terlalu panjang karena menurut saya topik bahasan ini teramat sangat penting untuk dipahami.

Sekarang saya akan menjelaskan fenomena tersebut secara jelas agar Anda dapat terhindar atau tidak mengulangi pengalaman serupa.

RETENSI AIR A.K.A EDEMA

Tahukah Anda bahwa stuck atau terhambatnya proses penurunan berat badan itu diakibatkan oleh retensi air pada organ tubuh?
Retensi air atau “edema” nama secara medisnya merupakan kondisi yang memang sangat membingungkan. Banyak yang menyerah melakukan diet dan kembali ke pola makannya yang buruk akibat tidak ada perubahan berarti pada angka di timbangan dalam jangka waktu yang lama dan bahkan ada yang sampai beberapa minggu.

Seberapa banyak tubuh mengikat air berbeda-beda antara manusia dengan durasi yang berbeda pula. Retensi air dapat berupa dalam berbagai wujud seperti pembengkakkan organ, akumulasi air pada bagian tubuh tertentu seperti di bagian dada, perut atau persendian.

Saat kekurangan kalori atau keadaan tubuh kelaparan dalam jangka waktu relatif lama, nutrisi yang tidak seimbang menghambat mekanisme aliran dalam sel yang berfungsi untuk membuang kelebihan sodium dan air di tubuh. Oleh karena itu semakin rendah kalori yang tersedia guna dipakai oleh tubuh untuk berfungsi secara normal dan kurangnya nutrisi penting dapat menyebabkan retensi air menjadi lebih parah lagi.

Perlu diketahui bahwa penurunan berat badan tidak akan bisa linear sesuai dengan perhitungan pasti karena faktor hormonal atau sistem tubuh memiliki peran yang sangat besar. Melakukan suatu hal secara berlebih misalnya seperti olahraga terlalu forsir dan makan terlalu sedikit menyebabkan tubuh terlalu stress yang kemudian direspon dengan produksi hormon kortisol lebih banyak lagi. Jumlah produksi hormon kortisol yang normal sangat bermanfaat tetapi dapat merugikan dalam waktu lama dan dengan produksi dalam jumlah besar karena produksi kortisol memiliki hubungan garis lurus dengan retensi air. Jumlah hormon kortisol yang berlebih mengganggu kinerja hormon aldosteron yang mengatur keseimbangan air di tubuh.

Selain retensi air, terlalu lama melakukan diet ekstrim atau overtraining juga membuat tubuh masuk ke fase starvation mode yang dimana metabolisme tubuh menurun sehingga membuat defisit kalori yang mulanya banyak menjadi lebih sedikit.

PENUTUP

Dengan mengetahui penyebab-penyebab “stuck” ini semoga dapat menambah wawasan Anda untuk menemukan solusinya dan juga sebagai bekal untuk melakukan petualangan menurunkan berat badan episode berikutnya.

Sebenarnya cukup banyak solusi efektif yang dapat dilakukan untuk menghindari kendala “stuck” tersebut tetapi dengan menghindari penyebabnya saja saya yakin sudah lebih dari cukup.

Sekian dan semoga bermanfaat

- Jansen

UPDATE:
Pertanyaan yang masuk:
Q: Apakah benar-benar ada dan apa solusi efektif lain tersebut?

A: Tentu saja ada dan that’s the beauty of science tetapi solusi tersebut merupakan privilage yang hanya bisa diperoleh bagi Anda yang terdaftar sebagai klien.

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

3 Responses

  1. apakah hrs mengurangi asupan air?

    • Justru sebaiknya asupan air harus selalu terpenuhi setiap hari Yuni. Minum terlalu sedikit tubuh akan menahan air karena produksi hormone aldosterone naik.

  2. berat badan saya kan 115 sbelum diet,skrang sdh 3 mnggu lbih trun 6kg,jdi 109 kg,tpi knapa tdak ad prubahan y?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*